10 Oct 2014

[Kep. Banda] Pergi ke Banda Neira

Seumur hidup saya gak pernah kebayang sekali pun kalau akan menginjakkan kaki di Indonesia Timur.
Pertama, saya bukan dari keluarga yang suka jalan-jalan.
Kedua, tiket ke Indonesia Timur mahal banget.
...sampai suatu saat ada yang ngetwit "ada yang mau survei 2 minggu ke Banda Neira?"


Gunung Api di Banda, cantik ya? :)

Itulah awal mulanya saya akhirnya bisa menjejakkan kaki di Kepulauan Banda :D
Antara senang karena bisa datang ke tempat baru dan sedih karena pisah sama suami secara sinyal HP di Banda byar-pet semua :))
Saya dapat tugas survei tentang mendata objek wisata alam di Kepulauan Banda. Sebelumnya, saya tahu nama Banda Neira ini sebatas sebagai nama daerah wisata dan nama band indie :D Sebelum berangkat, saya sempat gooling tentang Banda Neira. Ternyata sudah lumayan banyak yang menulis tentang Banda, ada beberapa website yang cukup lengkap memberikan informasi menuju Banda seperti di sini atau di sini.

Biasanya, turis yang banyak datang ke Banda terpaksa mampir dulu ke Kota Ambon, karena transportasi menuju Banda hanya ada dua opsi yaitu dengan pesawat kecil (dengan kapasitas max.15 orang) atau Kapal Putih PELNI. Waktu itu, saya lagi kurang beruntung karena layanan pesawat sedang tidak beroperasi (hiks!) akhirnya mau-gak-mau harus naik kapal yang mana perjalanannya 8jam untuk sampai ke Banda *langsung mabuk laut*

Ini pertama kalinya saya naik kapal buat perjalanan jauh. Untuk orang Bandung kaya saya -yang lebih demen gunung daripada pantai- ya agak pucet juga dong ngebayangin selama itu terombang-ambing di atas laut. Apalagi banyak gosip sana-sini yang bilang kalau kapalnya biasa suka ngangkut penumpang diatas kapasitas. Gimana kalo nanti ada apa-apaaaaa~ Tapi untunglah itu cuma khayalan semata karena akhirnya bisa sampai di Banda dengan selamat sejahtera sentosa! Karena banyak pengalaman di atas kapal, nanti saya akan posting di judul yang berbeda ya :D

Banda Neira sebenarnya bagian kecil dari Kepulauan Banda, namanya jadi lebih terangkat karena memang Banda Neira jadi pusat kota sekaligus kecamatan di Banda. Semua kapal besar dari Ambon atau Papua singgah di sini setiap 2 minggu sekali. Asyiknya, setiap ada kapal yang singgah, selalu ada pasar kaget di luar pelabuhan. Jangan bayangkan pelabuhan yang besar ya, pelabuhannya kecil sekali, tidak lebih besar dari parkiran mall. Semua makanan yang enak mulai dari nasi kuning sampai telur ikan tuna ada! Makanan itulah menu sarapan pagi pertama saya di Banda :D

Setelah 8 jam perjalanan, saya langsung kalap liat makanan di pasar :D

Pertama kali jalan di sini, saya jadi teringat desa nenek saya :) Dimensinya, Suasananya, Baunya, Semuanya! :D Jalan di sini terhitung kecil dan mayoritas penduduk menggunakan motor sebagai alat transportasi. Karena tidak ada rambu (saking kecilnya Banda Neira) ada juga yang mengendarai motor sembarangan dan sering mengggunakan klakson :( Sayang sekali, padahal yang mereka klakson juga gak penting-penting banget.

Saya menginap tidak jauh dari pelabuhan, persis pinggir pantai. Cari saja rumahnya Pak Sesar. Kalau dari luar hanya terlihat pintu kecil dengan tulisan Naira Dive Center. Pak Sesar orangnya ramah sekali, suka ngajak ngobrol kalau sedang tidak ada acara diving. Kamarnya hanya ada dua sih, tapi siapa yang gak senang kalau setiap pagi bisa nongkrong di pinggir pantai? :D Oiya, kalau berenang hati-hati ya, karena ternyata di hari terakhir saya disini saya lihat belut raksasa dan ular laut disini :P

Rumahnya sederhana tapi bisa renang dan lihat ikan setiap hari :)

Siang itu, saya berkeliling Banda Neira. Sebenarnya pulaunya cukup besar, tapi letak antar objek arsitekturalnya berdekatan jadi masih bisa terjamah dengan berjalan kaki. Di daerah sekitar pelabuhan gaya bangunan didominasi bangunan lama dan beberapa bangunan dijadikan sebagai museum atau penginapan. Saya setuju dengan alih fungsi ini ketimbang bangunannya terlantar tidak dirawat. Kalau melewati bangunan-bangunan ini rasanya saya masih bisa membayangkan para bangsawan Belanda itu saling bercakap-cakap di beranda.

Sayangnya, kerusuhan Ambon punya dampak yang besar disini :( Banyak bangunan rumah dibiarkan terlantar begitu saja karena ditinggalkan pemiliknya. Banyak rumah tak berpenghuni yang fasadnya masih bagus. Pak Des Alwi salah satu tokoh Banda yang berhasil mengupayakan renovasi untuk beberapa bangunan lama. Sayangnya saya gak bisa mengeksplor semua bangunan satu-persatu (hiks! padahal pengen banget) tapi secara keseluruhan bangunan lama di Banda Neira ini cantik semua! Yakin banget deh kalau anak arsitek ke sini pasti langsung sibuk foto-foto! :D Oiya di hari pertama ini langitnya lagi cakep-cakepnya, untung sempat foto-foto karena ternyata 2 minggu ke depan mendung terus :(


Bangunan yang menyambut di depan pelabuhan : masjid dan sekolah perikanan Sjahrir-Hatta
Rumah tak berpenghuni dan penginapan Delfika.
Rumah Budaya Banda Neira

Rumah Sutan Sjahrir yang menjadi museum. Isinya semua barang sjahrir selama tinggal di Banda
Rumah Kapten Cole. Cantik di depan sayang dalamnya gak keurus :(
Gereja Banda Neira. Selain tempat beribadah, di dalam gereja ini juga ada makam :O
Rumah bekas pegawai Belanda,. Dalamnya rusak parah :(
Saya gak tahu ini bangunan apa, tapi cantik ya? :D
Salah satu gereja yang terlantar akibat kerusuhan Ambon
Rumah deputi gubernur VOC. Dalamnya sudah direnovasi :D
Rumah Iwa Soemantri. Sayang tidak sempat masuk ke dalam.
SD Banda Neira. Dulu Bung Hatta sempat mengajar disini. Disini sinyal telkomsel paling kuat :D
Istana Mini. Sudah direnovasi dan sering dipakai bila ada acara besar.
Ada juga klenteng di sini, hanya bisa diintip dari luar soalnya pintunya tertutup.
Benteng Nassau. Sudah rusak parah tapi masih keren :D
Benteng Beligica. Benteng paling keren di Banda karena bisa lihat pemandangan laut :D
Bentengnya baru buka sore hari. Waktu datang ke sini masih digembok, akibatnya cuma bisa foto dari pagar depan :P

Tata kota Banda Neira memang dibangun dengan rapih oleh Belanda. Peninggalan yang terlihat tidak hanya dari bangunan saja, namun bisa dilihat dari jalan dan sistem pembuangan air yang berada di setiap pinggir jalan. Jalan-jalan di Banda Neira rasanya romantis! Mungkin karena efek melihat bangunan lama dan nilai historisnya ya? Di setiap sudut kotanya cocok buat jadi tempat foto pre-wedding :D

Lihat bekas reruntuhan ini, bagus kan?

Kurang lebih inilah yang nanti dilihat sepanjang Banda Neira.

Sayang juga meriam bersejarah ini ditaruh begitu saja di luar.
Beberapa bangunan yang terlantar ini bikin efek dramatis ya?
Tembok reruntuhan ini juga ada dimana-mana :D
Ini tampak salah satu rumah penduduk disana :)
Sistem pembuangan air hujan pun besar dan dalam :D
Cocok buat syuting videoklip :P
Sisi timur Banda Neira :)
Setiap hari punya pemandangan ke Gunung Api. Kurang keren apalagi coba?
Senangnya lihat pohon disini semuanya besar-besar :D
Lihat kan laut yang biru itu? Ayo ke Banda Neira! :D

Dulu saya gak menyadari kalau Banda ternyata punya pengaruh besar dari penjajahan di Indonesia. Mendengar sejarah dan datang ke tempatnya langsung memang bisa membuat kita lebih menghargai sesuatu. Ayo tunggu apalagi? Ayo nabung buat tiket ke Banda!
Oiya, kalau sudah disini jangan lupa makan terung saus kenari ya! Maknyus banget :D

7 comments:

  1. Ajegile kk.. Fotonya banyak amat :)) ugh jadi kabita ke sana.. *aamiin. Eh upload flickr dong kk, jadi bisa ngomen di fotonya :P

    ReplyDelete
  2. suka banget foto gunung api berpelanginya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tengkyu :D hampir tiap hari loh (soalnya hujan terus) :p

      Delete
  3. ternyata gw ga nulis tentang banda ya ? arrgggghhhhhh *sirik

    ReplyDelete
  4. Ka Sentottt.. Seru banget! Cantik sekaleyyyy Banda Neira. ���� Mau dong kalau ada info tentang survei2 lagi. Kali aja bisa pas waktunya dan lokasinya sesuai dengan idaman2 aku. Yayayaya. Beneran ini mah, aku tertarik banget nget.

    ReplyDelete