13 Feb 2015

[Kep. Banda] Pulau Rhun

Pernah ingat sejarah tentang ada pulau di Indonesia yang ditukar dengan Pulau Manhattan? Pulau Rhun-lah jawabannya! Banyak yang sudah tahu bagaimana pesatnya Manhattan sekarang, lalu bagaimana dengan Pulau Rhun? Di bulan Juni 2014, akhirnya saya menapakkan kaki juga di pulau bersejarah ini. Bayangkan saja, mana pernah saya kepikiran punya kesempatan bisa datang ke Pulau yang jadi rebutan Inggris dan Belanda ini? 

masih indah seperti dulu (kaya yang tau aja dulu kaya gimana)

Seperti biasa, perahu yang kami gunakan ke Pulau Rhun adalah perahu kayu berukuran sedang. Bedanya, Perahu ini beratapkan terpal dan semua orang duduk di level yang sama. Di bawah tempat duduk kita ada ruangan kecil yang biasanya diisi oleh barang bawaan atau titipan penumpang mulai dari sayur, beras, drum minyak sampai TV! Parkir perahu ini menghadap ke depan, jadi ketika saya kira saya duduk di belakang taunya saya malah duduk di depan :))  Enaknya duduk di depan adalah kita bisa lihat pemandangan yang lebih jelas selama perjalanan. Gak enaknya adalah pemandangan tadi berhadiah cipratan ombak. Pantesan orang-orang pada dempet-dempetan di belakaanggg :)) Perjalanan ke Pulau Rhun dari Banda Neira cukup lama juga, hampir 2 jam. Hawa perjalanan juga mirip-mirip ketika mau ke Pulau Ai. Perahu mulai kerasa agak horor begitu keluar dari batas Pulau Ai. Saya coba gak ngeliat ombaknya biar gak takut-takut amat. Pulaunya sih udah kelihatan tapi rasanya kok lama banget gak sampai-sampai :p

terpal di kapal ini ternyata menolong sekali.
menolong dari apa? baca terus ya :p

ternyata tempat bapak-bapak tiduran itu adalah bagian depan kapal.

Setelah melewati arus yang agak horor tadi akhirnya saya bisa lihat pulau yang... loh kok kecil? Oh, ternyata itu adalah Pulau Nailaka! Pulau Nailaka bisa dibilang adiknya Pulau Rhun. Ukurannya kecil sekali dan ada di sebelah utara Pulau Rhun. Pasirnya putiiihhh sekaliii :D Uniknya, kalau musim air laut surut akan muncul jalan pasir yang menghubungkan kedua pulau ini dan kita bisa berjalan kaki! Sayang waktu saya kesana bukan musimnya jadi gagal bisa berjalan kaki ke pulau ini. Ada yang bilang juga kalau malam bulan purnama banyak penyu hijau yang muncul ke daratan pulau ini :D

pulau nailaka kelihatan bersinar padahal pulau rhun lagi mendung-mendungnya :p

Sesampainya di Pulau Rhun, kapal ternyata bermasalah. Air laut sudah terlanjur surut dan perahu tidak bisa mendekat ke dermaga. Akhirnya kami terpaksa memakai perahu sampan yang cuma selebar pinggang itu buat berjalan ke darat. Rasanya susah banget mau jaga keseimbangan, padahal perahu ini biasa digunakan warga di sini ketika memancing. Begitu kaki saya menyentuh darat, saya langsung dihampiri oleh seorang bapak bernama Pak Burhan. Rupanya ada orang di perahu yang sudah memberitahu kalau bakal ada turis yang datang dan mencari penginapan. Kami lalu berjalan bersama ke rumahnya. Kalau masuk dari arah dermaga, rumahnya ada di sebelah kiri dan hanya terpaut beberapa rumah. Tulisan Guest House Nailaka ada di depan rumah. Ketika saya masuk, rumahnya bersih dan rapi sekali. Ada 3 kamar kosong yang disewakan dan keluarga Pak Burhan semuanya tinggal di rumah itu. Kalau mau memesan kamar di sini bisa hubungi Pak Burhan di 0813 4460 2095 atau canobarescom@yahoo.co.id

garis biru perahu itu udah mepet pinggang :p

guest house nailaka


rapi dan bersih

Setelah beristirahat sebentar, kami ngobrol dengan Pak Burhan dan meminta untuk mengajak kami berkeliling sebelum maghrib. Pak Burhan akhirnya mengantarkan kami ke Rumah Besi. Rumah Besi adalah salah satu bekas bangunan semacam kantor setor pala yang ada di Pulau Rhun. Letaknya agak di atas desa. Dalam perjalanan ke Rumah Besi saya melewati bagian desa sebelah barat. Letak bangunan desa rapih sekali, hampir seperti desa di Pulau Hatta. Oiya, di sini banyak sekali yang membuat ikan atau cumi kering, hampir di depan setiap rumah ada. Setelah melewati desa kami diajak ke bukit tanah merah dengan menaiki tangga yang lumayan banyak dan sedikit bikin ngos-ngosan. Begitu sudah sampai di atas bukit, kami bisa lihat pemandangan desa Pulau Rhun dan lautnya! Cantik banget!


kepadatan rumahnya hampir sama dengan banda neira

hampir di setiap rumah ada ini :D

jalan, jembatan dan tangganya rapi semua

ini sebenarnya garis buat saluran air bukan ya?
salah satu rumah yang menarik perhatian saya

aduh, saya lupa menanyakan artinya ke Pak Burhan.
ada yang mengerti artinya?

semakin pinggir semakin menarik dan banyak yang dilihat

tangga menuju bukit tanah merah

pemandangan dari bukit tanah merah

santorini versi banda :p

Setelah puas berfoto, kami lalu melanjutkan perjalanan ke Rumah Besi. Ternyata Rumah Besi sudah tinggal kerangka kolom dan atapnya saja. Saya kaget juga, karena ternyata ukuran rumahnya lebih besar dan lebih tinggi dari yang saya bayangkan. Detail kolom besinya menunjukkan keistimewaan rumah ini sebagai penyumbang berkembangnya industri pala saat itu. Menurut Pak Burhan, dulu di atapnya ada lonceng besar yang sekarang sudah hilang. Konon, lonceng itu akan berbunyi keras sekali ketika jam masuk dan jam pulang. Saya terkadang suka melamun membayangkan para pekerja kita berbaris di dalam rumah itu untuk menyetor pala ke kepala pengawas ketika lonceng selesai berbunyi. Sayang sekali sekarang hanya tinggal kolom-kolomnya saja.


hanya tersisa atap dan kolom

ukurannya ternyata lebih besar dari yang saya kira

lihat kotak di atas kolom itu? itu tempat lonceng yang berbunyi itu

Di sebelah Rumah Besi tersebut ada bangunan tua yang berjendela kayu dan seng. Ketika saya menengok ke dalamnya ternyata isinya adalah sumur yang besar sekali dan berisi banyak air. Ada beberapa anak yang bermain-main air dan mengambil air dengan botol. Sumur itu ternyata merupakan salah satu penampungan air di pulau ini. Pulau Rhun, sama seperti Pulau Ai, tidak memiliki sungai ataupun mata air. Persediaan air sebagian besar didapat dari menampung air hujan. Pak Burhan punya cerita menarik tentang ini. Diceritakan bahwa dulu sebelum Belanda datang, Pulau Rhun memiliki mata air dan sungai. Ketika Belanda ingin mengambil Pulau Rhun, nenek moyang pulau ini berusaha mempertahankan habis-habisan. Namun, karena semakin terdesak oleh Belanda, akhirnya mereka semua memutuskan untuk segera pergi dari pulau ini. Sebelum pergi, mereka menutup semua sumber air dan sungai dengan batu agar Belanda tidak bisa hidup lama di pulau ini. Karena itulah sekarang sama sekali tidak ada sumber air di pulau ini. Menarik ya ceritanya? :D


pintu masuk ke bangunan sumur

sumurnya besar sekali.
dalam satu bangunan ini ada dua buah sumur yang berbeda.

mereka mau mengambil air, sekalian mandi :))

Perjalanan kami berakhir sebelum magrib. Di perjalanan pulang, kami melewati sebuah bangunan pembangkit listrik kecil. Sumber listrik di sini dipasok dari sini. Bangunan ini memiliki banyak solarcell yang merupakan bantuan dari pemerintah. Sama seperti kehidupan di pulau lainnya, ketika listrik menyala para bapak-bapak banyak yang berjalan ke masjid untuk salat magrib. Menginap di sini juga sama seperti menginap di Pulau Ai, kita tidak perlu repot mencari tempat makan karena sudah disiapkan makanan :D Esoknya kami memutuskan untuk berkeliling pulau dengan perahu. Seperti biasa, ada beberapa spot yang sulit sekali difoto karena backlight. Tapi soal air laut, Rhun memang ajaib warnanya, bagus seekkaallliii! Menurut saya, Pulau Rhun punya pantai paling cantik di Banda :D


tangga dari atas bukit yang menghubungkan rumah-rumah di desa


listrik dipasok dari sini.
hanya menyala dari jam 6 sore sampai 11 malam

kembali berjalan-jalan dengan perahu! :D


pantai keramat.
orang sini pakai sampan kecil itu udah kaya naik motor aja :))

pantai lokon.
alternatif dermaga ketika tidak bisa turun di dermaga depan desa rhun

pantai tanjung rhun
sudah mulai gerimis ketika saya ambil foto ini

tanjung maruka
lensa kamera saya sampai ada noda air hujannya :))

tanjung terbakar

tanjung waikora
spot paling bagus dan saya sama sekali gak edit fotonya :D

Yang paling menyenangkan adalah kami akhirnya mampir ke Pulau Nailaka! YIIIIPPYY!! Pulau Nailaka ini bagus sekaliiiii, apalagi ada bagian di pulau ini yang membentuk lengkungan seperti tanjung dan bagus sekali dijadikan spot foto! :D Saat kami datang, ternyata banyak juga mahasiswa kkn (bukan kkn yang korupsi) yang sedang piknik di sini. Kata Pak Burhan, pulau ini memang biasa dijadikan sebagai pulau wisata orang Rhun karena bagus dan dekat. Biasanya orang-orang menyewa perahu untuk ke sini dan perahunya akan kembali lagi menjemput setelah sore atau sesuai perjanjian :D

dari ujung pasir ini kalau musim air laut surut akan muncul jalan pasir ke
arah pulau rhun :D

pasir putih dan langit biru :)


kalau musim angin barat, bagian berbatu ini terisi pasir
foto pulau nailaka yang lain tunggu di postingan berikutnya ya :p

Setelah berkeliling pulau, kami kembali ke rumah untuk mengisi bahan bakar alias makan siang! Perjalanan melihat yang biru-biru ini belum selesai karena kami harus lihat yang hijau-hijau alias naik ke gunung :D Target berikutnya adalah mengukur tinggi gunung yang ada di Pulau Rhun. Medannya tidak seberat Pulau Hatta tapi jalannya lumayan jauh juga dan kami harus berjalan cepat karena waktu sudah sore. Ngeri juga kan kalo tersesat malam-malam di hutan? :p Titik pertama adalah wartel. Ha? Kok wartel? Iya, wartel. Soalnya di Pulau Rhun sama sekali gak ada sinyal telepon. Kalau menelepon kita harus jalan ke atas bukit ini. Pak Burhan bilang kalau dia mau menelepon anaknya yang di Ambon ya harus naik ke sini karena cuma di ketinggian ini sinyal hp baru tertangkap. Setelah saya ukur ternyata tingginya 145 m dari pantai. Kebayang gak sih udah naik ke atas cape-cape terus taunya gak bisa nelpon karena pulsanya abis :)) Sepanjang perjalanan, banyak sekali pohon kenari yang tumbang. Kemungkinan karena usianya yang sudah tua.


pak burhan saja sampai cape :))

pohon kenari tumbang

bayangkan saja tingginya :|

Hal menarik lain yang saya temui di sini adalah area batu taro-taro. Batu taro-taro terkenal bisa mengabulkan permintaan jika kita ikut menaruh batu di tempat tersebut. Bentuknya berupa tumpukan batu yang saling menempel. Awalnya tinggi batunya tidak setinggi sekarang, namun jadi setinggi sekarang karena setiap orang yang datang akan menaruh batu beralaskan daun di atas batu yang sudah tertempel. Awalnya saya gak percaya kalau itu berasal dari tumpukan batu, tapi setelah melihat dari dekat benar loh ternyata! Mungkin karena tetesan air yang jatuh dari atas membuat daun menjadi lengket di antara batu. Mungkin loh ya, saya juga gak ngerti-ngerti amat :p Dinding di area ini juga keren. Bentuknya seperti goa yang terbelah setengah. Ada banyak staklaktit yang menggantung di atas :D


keren ya dinding batunya :D

seperti setengah goa

berfoto di selah batu taro-taro

mereka beneran menempel loh :O

Sebenarnya ada satu area lagi yang harus didatangi, tapi Pak Burhan khawatir kita tidak akan sampai di desa sebelum maghrib. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali. Di perjalanan pulang, kami sempat berfoto dengan latar belakang laut dan desa Rhun. Bagus sekali, sayang backlight :p Bagi saya Pulau Rhun ini seperti Santorini-nya Banda (berasa udah pernah aja ke Santorini) Susunan rumahnya rapih mengikuti kontur, cuma sayang atapnya gak putih dan berbeda-beda, hahahaha! Bahkan ada testimoni dari bule yang menginap di rumah Pak Burhan yang menulis kalau dia lebih suka Pulau Rhun daripada Pulau Manhattan sekarang :)


senja di pulau Rhun

Sebelum kami pulang, Pak Burhan bercerita bahwa di Pulau Rhun tidak boleh membuat janji. Orang Pulau Rhun percaya sekali berjanji harus ditepati atau akan mendapat sial. Keyakinan ini sudah turun temurun diceritakan dan dijalankan. Menarik ya? :D Oiya, masih ingat terpal perahu yang saya ceritakan di awal postingan ini? Saya bilang kalau terpal itu ternyata menolong saya. Menolong dari apa? DARI CIPRATAN OMBAK YANG GAK SANTAI! :))) Serius, ini pengalaman naik perahu yang saya harap pertama dan terakhir kali saya rasakan. Pulang dari sini, saya naik kapal yang sama tapi dengan cuaca yang berbeda sama sekali. Hujannya lumayan deras dan ombaknya bikin saya...keringat dingin. Saya sampai dipegang erat sama ibu-ibu di kapal. Saking ngerinya. Horizon laut yang biasa kita lihat itu jadi diagonal. Mbak-mbak di sebelah saya (yang asli Banda!) saja sampai muntah. Saya juga sebenarnya sudah mual, tapi kalau harus muntah di ujung kapal sih kayanya lebih serem lagi, gimana kalau sampai kepleset,hhiiiiiiiii. Ini adalah dua jam paling mengerikan di hidup saya, sampai saya mikir kalau perahu ini kebalik saya harus berenang ke mana, walaupun peluang selamatnya juga kecil :)) Sepanjang perjalanan saya cuma bisa dzikir sama lihat jam yang kayanya angkanya mati gak ganti-ganti. Untungnya, Tuhan masih sayang, kami akhirnya bisa sampai ke Banda Neira dengan selamat walaupun bikin trauma. Jadi, buat yang mau ke Pulau Rhun (atau Hatta) sebaiknya datang di musim yang baik ya, biasanya bulan Oktober-November anginnya sedang baik. Kalau gak perlu-perlu banget sebaiknya gak usah deh daripada nanti jadi trauma :D Kecuali ya memang mau merasakan kenalan sama ombak banda :)

No comments:

Post a Comment